Prakata

Apakah kamu pernah mendengar tentang 'bottom-up thinking'?

Bottom-up thinking adalah sesuatu yang saya—dan mungkin sebagian kecil orang lainnya di dunia—miliki dan lakukan sehari-hari. Dan ketika saya bilang "lakukan", itu tidak berarti bahwa saya melakukannya secara deliberatif, seolah saya sedang memerintahkan diri saya untuk melakukannya. Ia lebih seperti ketika Anda dan saya sedang bernapas. Kita tidak menyusun rencana untuk menarik napas, kita hanya melakukannya. Ia adalah sebuah keadaan di mana saya tidak bisa menahan diri untuk terus menggali sesuatu sampai ke dasar, untuk kemudian memulai segalanya dari sana. Di banyak lingkungan, orang seperti saya mungkin adalah objek yang tepat untuk disematkan label-label seperti 'lelet,' 'kebanyakan mikir,' (overthinking), atau bahkan 'bodoh.' Saya tidak membantah label-label itu karena, mungkin, dalam standar tertentu, ia memang ada benarnya dan, lagi pula, label-label itu tetap memiliki fungsinya dalam komunikasi. Saya tidak keberatan jika orang lain menerapkan heuristik tertentu atas gejala tertentu, termasuk gejala-gejala yang muncul dari kondisi bottom-up thinking yang saya miliki.

Farid Ma'ruf, ahli strategi bisnis dan spesialis pemasaran digital

Jika Anda mencari frasa itu—bottom-up thinking—di mesin pencari, kemungkinan besar Anda akan menemukan bahwa ia diasosiasikan dengan kondisi autisme. Meskipun ia bukan merupakan penanda mutlak dari diagnosis autisme itu sendiri, ia sering dianggap sebagai salah satu gaya berpikir (cognitive style) yang lebih sering muncul pada orang dengan spektrum autisme ketimbang populasi orang secara umum. Dan, jika pertanyaan apakah saya memiliki autisme tiba-tiba muncul di benak Anda, saya pun tidak tahu.

Sebagai sebuah cognitive style, bottom-up thinking berarti memiliki kecenderungan untuk membangun pemahaman dari bagian-bagian kecil terlebih dahulu, yang kemudian membentuk gambaran dan struktur yang lebih besar. Akan sangat mungkin bahwa seorang bottom-up thinker fokus pada pola, menyadari adanya inkonsistensi, atau memprioritaskan hal-hal detail sebelum melihat konsepnya secara menyeluruh. Top-down thinkers akan cenderung memulai dari konteks yang lebih luas, bertanya apa yang menjadi ekspektasi pada ujung dari semuanya, seperti bertanya, "intinya apa?" untuk kemudian menginterpretasikan detail-detail yang menjadi prasyarat dari konsep atau "inti" tersebut; sementara bottom-up thinkers akan mengatakan, "selama fondasinya solid, tidak penting apa intinya, Anda bisa membangun apa pun darinya."


Saya membangun fondasi lebih dulu. Saya sering merasa terganggu ketika mendapati sesuatu dibangun di atas dasar yang rapuh. Saya tidak bisa bergerak maju dan akan tiba-tiba merasakan dorongan kuat untuk turun dan memperbaiki fondasi yang goyah itu terlebih dahulu. Saya tidak bisa melanjutkan membangun sesuatu yang saya tahu akan runtuh di masa depan akibat adanya sebuah retakan di bawah sana. Kalaupun sesuatu akan runtuh, saya tidak ingin keruntuhan itu diakibatkan oleh fondasi yang rapuh. Sekadar membayangkan skenario di mana saya sudah berdiri di atas, lalu tiba-tiba harus turun lagi untuk memperbaiki sesuatu yang seharusnya dibangun dengan benar sejak awal, itu cukup mengiritasi pikiran dan hari-hari yang harus saya lalui setelahnya. Hal ini sering memicu perdebatan yang kemudian menguras energi karena saya harus menutupi (masking) insting ini dan berpura-pura 'ikut arus'. Kebanyakan orang mampu untuk ikut arus dan merasa nyaman berdiri di atas fondasi yang rapuh. Saya tidak. Dilihat dari sudut pandang itu, ini, memang, adalah sebuah kekurangan dan ketidakmampuan (disability).


Tapi saya memilih untuk melihat kondisi ini sebagai sekadar sebuah outcome dari seleksi alam. Kebetulan, secara biologis, saya punya otak yang bekerja dengan cara seperti ini. Saya sendiri bahkan baru menyadari bahwa ini adalah hal yang nyata (dan bukan sesuatu yang saya perlu untuk meminta maaf karena memilikinya) saat saya memasuki usia awal tiga puluhan. Fakta itu sendiri sebenarnya sudah menjelaskan banyak hal tentang pola bottom-up thinking: saya tidak bisa benar-benar yakin tentang siapa atau apa diri saya, sampai saya benar-benar menjadi diri saya. Butuh waktu selama itu bagi saya untuk menyadari sesuatu yang mungkin sudah dipahami orang lain di usia yang jauh lebih muda. Kendati demikian, saya dengan mantap menempatkan karakter ini pada kuadran 'Strength' dalam analisis SWOT pribadi saya. Karena saya yakin, ini adalah sesuatu yang harus saya manfaatkan.


Having said that, kalau Anda masih membaca sampai paragraf ini, poin utama yang ingin saya sampaikan adalah: secara profesional, saya bisa menjadi kolaborator Anda dalam membangun maupun memperbaiki "fondasi". Saya menikmati proses membangun dan memperbaiki fondasi hingga stabil, sebagaimana orang lain menikmati duduk nyaman di atas fondasi yang sudah stabil. Saya akan sangat senang jika dapat berkolaborasi dalam hubungan kerja sama yang saling melengkapi seperti itu.


Jika ada sesuatu di sini yang selaras dengan Anda—cara berpikir, etos kerja, maupun kemungkinan kolaborasi—Anda dapat menghubungi saya melalui tautan yang ada pada are footer dari halam web ini, atau Anda dapat mengunjungi blog saya.