Kereta Berasap dan Perundung yang Tak Tersentuh
Daftar Isi

Pada pagi hari tanggal 3 Januari 2026, saya berada di dalam kereta RER di Paris. Penuh sesak seperti biasa, lalu saya menyadari keberadaan seorang perempuan ini. Dia jelas terlihat mengalami gangguan kejiwaan: berbicara keras kepada dirinya sendiri, berteriak kepada orang-orang yang tidak terlihat, dan merokok di dalam gerbong yang tertutup. Asapnya ada di mana-mana, mengganggu semua orang di sekitarnya. Penumpang yang duduk dekat dengannya jelas terlihat tidak nyaman, sedikit terbatuk-batuk, bergeser di kursi mereka. Bahkan saya, yang berdiri lebih jauh, merasa terganggu oleh baunya dan oleh keseluruhan situasi itu.
Namun begini masalahnya: tidak seorang pun berkata apa-apa. Tidak ada yang memintanya berhenti, tidak ada yang memanggil kondektur, tidak ada yang melakukan apa pun. Dia tidak besar atau mengancam secara fisik, tetapi perilakunya membuatnya tak tersentuh pada momen itu. Risiko mengonfrontasinya terasa terlalu tinggi, sehingga kami semua hanya duduk di sana dan menghadapinya begitu saja.
Hari itu, belakangan, saya membaca berita tentang apa yang terjadi antara Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump dan Venezuela. Adegan di kereta RER itu terus terngiang di kepala saya karena terasa persis seperti situasi hukum internasional.
Di atas kertas, ada aturan-aturan. Merokok dilarang di dalam kereta demi menjaga udara tetap bersih dan keselamatan orang-orang. Hukum internasional mengatakan tidak ada negara yang boleh begitu saja menginvasi negara lain, mengebomnya, atau menangkap pemimpinnya tanpa alasan yang sah. Namun ketika seseorang yang cukup berkuasa melanggar aturan-aturan itu, aturan itu tiba-tiba tidak lagi berarti.
Semua orang “sangat prihatin” (meminjam istilah Sekretaris Jenderal PBB, Guterres). Negara-negara mengecamnya sebagai tindakan ilegal. PBB berbicara tentang “preseden yang berbahaya”. Namun pada akhirnya, itu semua hanyalah kata-kata. Tidak ada yang menghentikan Amerika Serikat. Tidak ada sanksi yang benar-benar menyakitkan. Tidak ada hukuman yang nyata.
Mengapa? Karena Amerika Serikat terlalu besar, terlalu kuat. Ia memiliki hak veto di PBB, militer terbesar, ekonomi terbesar. Mengonfrontasinya akan memakan biaya yang terlalu mahal—sama seperti mengonfrontasi perempuan di kereta itu terasa berisiko bagi penumpang biasa.
Ini menunjukkan sebuah kebenaran yang pahit: hukum itu hebat ketika semua orang mematuhinya, atau ketika pelanggarnya cukup lemah untuk dipaksa patuh. Namun ketika si perundung adalah yang terkuat di ruangan itu, hukum hanya diam tak berdaya. Ia tidak lebih dari sekadar fiksi belaka.
Persis seperti gerbong kereta berasap itu: aturannya ada, tetapi pada kenyataannya, kita semua hanya menghirup asapnya dan menunggu pemberhentian berikutnya.
Mungkin suatu hari sistemnya akan berubah. Mungkin para “penumpang”—negara-negara lain—akan menemukan cara untuk menegakkan aturan dengan lebih baik. Tapi untuk saat ini? Kekuasaanlah yang menang. Dan itu hanya menyisakan kita semua untuk berharap asapnya menghilang dengan sendirinya.