Es Krim, Hukum, dan Negosiasi

27 June 2026 Farid Ma'ruf
Daftar Isi

Dalam diskusi-diskusi mengenai pengasuhan anak (parenting), kita sering diajari bahwa para orang tua sebaiknya memberikan anak-anak batasan yang jelas mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Tujuannya bukan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa bahwa dunia ini hitam dan putih (karena dunia bekerja, tentu saja, tidak dalam kerangka hitam dan putih), melainkan karena anak-anak cenderung suka ‘menguji batasan’. Mereka suka bermain-main dan bereksperimen dengan demarkasi antara mana yang boleh dan sampai batas mana ia tidak lagi boleh. Anak-anak suka bermain tarik-ulur dengan otoritas (yang dalam hal ini adalah orang tua atau orang yang mengasuh mereka). Oleh karena itu, orang tua, dalam rangka mengajari anak-anak tentang adab, disiplin, serta hukum dan ketertiban (law and order), disarankan untuk selalu menjaga batas-batas ini secara konsisten dan konsekuen. Contoh yang paling umum adalah mengenai waktu tidur, waktu bangun tidur, waktu bermain, waktu belajar, waktu beli es krim, syarat dan ketentuan untuk dapat dibelikan es krim, sistem hadiah dan hukuman (reward and punishment), dan lain sebagainya.

Yang sering terjadi adalah, para orang tua, atas nama cinta dan kasih sayang, menjadikan batasan-batasan ini tidak mutlak dan dapat dinegosiasi, yang kemudian mengirimkan sinyal kepada anak-anak bahwa batasan atau aturan tersebut bekerja dalam prinsip “Selama tidak dilarang, berarti boleh”, atau dengan kata lain, batas yang dibuat oleh otoritas sering kali menjelma isyarat untuk melakukan negosiasi, alih-alih menjadi dinding pembatas yang tidak mungkin ditembus; dan anak-anak akan terus menarik “karet hukum” ini sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Jika orang tua telah menetapkan hari Minggu adalah satu-satunya hari di mana anak boleh makan es krim, maka akan ada kecenderungan anak akan meminta untuk dibelikan es krim di hari selain hari Minggu, mungkin hari Senin, karena mereka ingin tahu sekeras apa tembok aturan ini, ketika orang tua, suatu ketika, mengabulkan keinginan anak untuk beli es krim di hari Senin, sang anak tahu bahwa aturan ini bisa dinegosiasi, dan akan kembali meminta di hari Selasa, dan seterusnya.

Bukan sifat eksklusif anak-anak

Sayangnya, saya kurang setuju jika perilaku ini dilabeli secara eksklusif sebagai bagian dari, atau penanda, fase perkembangan. Menurut saya, narasi semacam ini terjebak dalam adultcentrism, memandang anak-anak seolah memiliki mekanisme psikologis yang berbeda dan bahkan inferior dari orang dewasa. Pernyataan yang lebih tepat, menurut saya, adalah bahwa: ‘subjek yang diatur (the subordinate atau the governed) cenderung suka menguji batasan yang ditetapkan oleh otoritas yang mengaturnya.’ Dengan kata lain: fenomena ini bukanlah sifat kekanak-kanakan, melainkan dinamika kekuasaan (power dynamics) universal di mana semua orang yang berada di bawah struktur regulasi tertentu akan melakukan hal yang sama. Poin bahwa anak-anak suka menguji batasan tentu tidak salah, dan ia tetap merupakan narasi yang berfungsi dengan baik ketika digunakan di dalam bingkai parenting itu sendiri.

Kita sering menemui gejala ini di banyak situasi dan skenario. Seorang karyawan malas yang datang terlambat satu menit akan menguji keesokan harinya apakah jika dia terlambat dua menit akan mendapatkan sanksi dari departemen SDM; seorang pejabat pemerintahan yang korup dengan mengambil keuntungan pribadi dari anggaran belanja negara akan terus menguji sampai batas mana aksinya akan mulai tercium oleh KPK; seorang anggota DPR yang memiliki agenda yang menyimpang dari tujuan untuk mensejahterakan konsitituennya akan menggunakan posisinya untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya sampai batas di mana dia mulai sadar bahwa level elektabilitasnya mulai menurun karena rakyat tidak lagi berpihak padanya; dan seterusnya. Ketika mereka melakukan ini, mereka sebenarnya sedang memetakan lanskap kekuasaan, mencari tahu seberapa konsisten dan kredibel otoritas yang ada di atas mereka.

Saya bekerja di lingkungan akademik, dan saya sering mengikuti kegiatan kuliah umum maupun konferensi di mana para akademisi diberikan panggung untuk berbicara dan mendiskusikan banyak hal secara akademis. Pernahkah Anda menemui bahwa, ketika pembicara diberikan waktu untuk berbicara, katakanlah, 15 menit, kemudian pada menit ke-14, seorang moderator memberikan semacam isyarat yang menunjukkan bahwa waktu pemaparan tersisa 1 menit lagi. Yang sering terjadi adalah, akademisi ini akan cenderung mengulur sisa waktu satu menit itu menjadi dua menit. Kemudian dia akan mengobservasi, melihat reaksi di sekitarnya, apakah sang moderator mengawasinya dan akan mengingatkannya kembali. Ini adalah proses kalkulasi risiko: apakah aturan ini sekadar formalitas atau harga mati? Jika moderator diam saja (otoritasnya pasif), si pembicara mendapat validasi bahwa batas tersebut ternyata elastis. Ia akan mengulur lagi hingga tiga menit, empat menit, dan seterusnya. Anda tentu mengerti poin saya.

Kesimpulan

Batas yang dibuat oleh otoritas sering kali dianggap sebagai titik negosiasi, bukan tembok mati. Mengulur waktu dari satu menit menjadi dua atau tiga menit adalah bentuk resistensi kecil (micro-resistance) untuk merebut kembali otonomi yang menyusut saat seseorang diposisikan sebagai pihak yang diatur.

Dalam dunia parenting, narasi yang sering diangkat adalah anak-anak menguji batasan karena otak mereka belum matang (belum memiliki regulasi emosi yang baik) atau sekadar ingin tahu, karena anak-anak memang cenderung memiliki level rasa ingin tahu (curiosity) yang lebih tinggi. Namun, beberapa contoh di atas, saya kira, harus dipertimbangkan untuk melengkapi narasi ini. Dan ia, menurut saya, membuktikan bahwa kecenderungan untuk mengetes dan bermain-main dengan batasan (boundaries) adalah sifat manusiawi ketika berhadapan dengan aturan, dan sama sekali bukan sifat yang eksklusif terjadi pada anak-anak. Ketika dibawa ke ranah orang dewasa, penjelasannya meluas menjadi ‘negosiasi otonomi’. Ketika seseorang ditempatkan di posisi “yang diatur”, secara psikologis ada ruang kebebasan diri yang menyusut. Mengulur waktu dari 1 menit menjadi 2 atau 3 menit adalah bentuk resistensi untuk merebut kembali kendali atau otonomi tersebut.