Tidak Ada yang Personal, dan Tidak Ada yang Abadi
Daftar Isi

Ada cara umum untuk membicarakan manusia dan alam yang semakin sulit saya terima. Ia dimulai dengan pembedaan yang tampak jelas: alam itu seimbang, hewan hidup dalam keseimbangan itu, dan manusia—melalui kecerdasan, teknologi, industri, dan kapitalisme—telah mengacaukannya. Perubahan iklim kemudian disajikan sebagai bukti paling jelas bahwa manusia telah menjadi kekuatan destruktif yang tidak ada tandingannya sebelumnya.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kerangka berpikir ini.
Ini bukan karena perubahan iklim tidak nyata, atau karena aktivitas manusia tidak memiliki konsekuensi ekologis. Pertanyaan yang lebih mendasar berbeda: apa sebenarnya yang kita maksud ketika mengatakan sebuah ekosistem telah “terganggu,” dan mengapa kita berasumsi bahwa keadaan yang terganggu itu merepresentasikan semacam keseimbangan alami yang seharusnya ada?
Bumi tidak pernah statis. Iklimnya telah berubah berulang kali. Spesies muncul dan punah. Lautan, atmosfer, benua, hutan, gurun, dan jaring makanan terus-menerus bertransformasi. Jauh sebelum Homo sapiens ada, kehidupan itu sendiri sudah secara radikal mengubah planet ini. Organisme fotosintetik mengubah atmosfer dengan menghasilkan oksigen; organisme mengubah tanah dan aliran air; predator membentuk ulang populasi mangsa; tumbuhan mengubah lingkungannya hanya dengan tumbuh.
Sejarah kehidupan karena itu bukanlah sejarah sebuah planet stabil yang sesekali terganggu oleh manusia. Ia adalah sejarah sebuah sistem dinamis di mana organisme terus-menerus mengubah kondisi tempat organisme lain hidup.
Dari sudut pandang ini, manusia bukanlah kekuatan asing yang datang dari luar alam. Manusia adalah salah satu produk alam.
Ilusi Keseimbangan Alami
Mungkin masalahnya dimulai dari kata keseimbangan.
Kita sering berbicara seolah-olah alam memiliki konfigurasi yang benar, yang secara alami dituju. Sebuah hutan ada, hewan menghuninya, tumbuhan tumbuh, predator mengatur mangsa, dan segalanya entah bagaimana tetap seimbang—sampai manusia datang dan mengacaukan susunannya.
Namun keseimbangan selalu relatif terhadap skala pengamatan tertentu.
Sebuah populasi mungkin tampak stabil selama sepuluh tahun sementara berubah drastis selama sepuluh ribu tahun. Sebuah hutan mungkin terlihat permanen dalam rentang hidup manusia, padahal hanyalah konfigurasi ekologis sementara dalam skala waktu geologis. Sebuah spesies bisa mendominasi sebuah ekosistem selama jutaan tahun sebelum akhirnya punah sepenuhnya.
Semakin dekat kita memperbesar pandangan, semakin stabil sistem itu tampak. Semakin jauh kita menjauhkan pandangan, semakin jelas transformasinya.
Karena itu, tidak ada alasan jelas untuk menganggap keadaan ekologis Bumi pada momen tertentu sebagai satu-satunya keadaan alami Bumi. Hutan yang ada hari ini tidak lebih otentik secara metafisis dibandingkan lautan yang menempati lokasi yang sama jutaan tahun lalu. Dinosaurus tidak menjaga planet ini dalam keseimbangan yang lebih sah dibandingkan yang dilakukan mamalia hari ini. Kepunahan sebuah spesies bukanlah pelanggaran terhadap semacam hukum ekologis kosmik.
Alam tampaknya tidak mengandung mekanisme eksternal yang bertujuan menjaga konfigurasi kehidupan tertentu.
Yang ada hanyalah organisme, lingkungan, lingkaran umpan balik, kompetisi, reproduksi, adaptasi, dan perubahan.
Kecerdasan Hewan Manusia
Ini juga mengubah cara kita seharusnya memikirkan kecerdasan manusia.
Ada kecenderungan untuk memperlakukan kecerdasan sebagai sesuatu yang secara moral lebih tinggi. Asumsinya sering bergerak diam-diam dari kecerdasan menuju rasionalitas, dari rasionalitas menuju kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan menuju superioritas moral.
Namun kecerdasan pada dasarnya adalah sebuah kapasitas.
Ia memberi sebuah organisme kemampuan yang lebih besar untuk memanipulasi lingkungannya. Ia tidak menentukan apa yang seharusnya dilakukan organisme itu dengan kemampuan tersebut.
Seorang manusia dapat menggunakan kecerdasan untuk menciptakan matematika, musik, kedokteran, filsafat, pertanian, senjata nuklir, pasar keuangan, kota, atau sistem industri. Kecerdasan itu sendiri tidak mengandung arah moral.
Dalam pengertian ini, kecerdasan manusia bisa dipahami sekadar sebagai alat kelangsungan hidup lainnya.
Seekor hewan pengerat memiliki gigi yang bisa digunakan untuk mengeksploitasi lingkungannya. Seekor burung memiliki sayap. Sebuah tumbuhan memiliki akar, daun, dan pertahanan kimiawi. Manusia memiliki kapasitas kognitif yang luar biasa canggih.
Perbedaannya sangat besar dalam skala dan mekanisme, tetapi mungkin tidak sedalam yang biasa kita bayangkan dalam prinsipnya.
Bayangkan sebuah dunia hipotetis di mana, alih-alih Homo sapiens, sebuah spesies hewan pengerat menjadi luar biasa sukses. Bayangkan populasinya meledak karena makanan melimpah dan predator langka. Hewan pengerat itu mengonsumsi vegetasi dalam jumlah sangat besar. Mereka menggerogoti pohon, menghancurkan hutan, menghabiskan pasokan makanan mereka sendiri, dan akhirnya mengubah ekosistem yang menopang mereka.
Akankah kita mengatakan bahwa hewan pengerat itu telah melakukan kejahatan moral terhadap alam?
Kemungkinan besar tidak.
Mereka hanyalah hewan pengerat yang berperilaku sebagaimana hewan pengerat berperilaku dalam kondisi ekologis tersebut.
Ketiadaan kecerdasan setara manusia pada mereka tidak membuat dampak ekologisnya menjadi tidak bersalah secara moral. Kecerdasan mereka juga tidak diperlukan untuk menjelaskannya.
Ini menunjukkan bahwa transformasi ekologis secara mendasar tidak memerlukan kecerdasan. Ia hanya memerlukan organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang memungkinkan mereka bertahan hidup dan bereproduksi.
Kecerdasan manusia hanya memberi satu spesies versi yang luar biasa kuat dari kapasitas ini.
Kelangsungan Hidup Bisa Menghancurkan Kondisi bagi Kelangsungan Hidup
Ada paradoks yang lebih dalam lagi di sini.
Mekanisme yang sama, yang membuat sebuah organisme sukses, pada akhirnya bisa merusak kondisi yang menopang kesuksesan itu.
Sebuah populasi tumbuh karena lingkungannya menyediakan sumber daya yang melimpah. Pertumbuhannya meningkatkan konsumsi sumber daya. Peningkatan konsumsi mengubah lingkungan. Lingkungan yang berubah itu kemudian mengurangi sumber daya yang tersedia bagi populasi tersebut.
Proses yang sama bisa terjadi pada berbagai skala.
Populasi herbivora bisa mengonsumsi vegetasi lebih cepat daripada regenerasinya. Sebuah komunitas tumbuhan bisa mengubah tanahnya. Seekor predator bisa mengurangi populasi mangsanya. Mikroorganisme bisa mengubah kondisi kimiawi lingkungan sekitarnya. Manusia bisa mengekstraksi energi dan material dalam jumlah sangat besar dari Bumi dan mengubah lingkungan planet dalam prosesnya.
Ini tidak memerlukan narasi moral.
Ini adalah sistem umpan balik.
Dalam istilah ekologi, sebuah organisme tidak sekadar beradaptasi dengan lingkungannya. Ia juga bisa membangun dan mengubah relung ekologisnya (niche), setelah itu lingkungan yang berubah itu memberi umpan balik pada organisme tersebut.
Ini membuat hubungan antara kehidupan dan lingkungan secara mendasar bersifat timbal balik.
Lingkungan membentuk organisme.
Organisme membentuk lingkungan.
Lingkungan hasilnya membentuk generasi organisme berikutnya.
Tidak ada pembagian sederhana antara alam yang tak bersalah dan organisme yang mengganggu.
Manusia dan Kapitalisme
Kapitalisme bisa dipahami dalam kerangka ini tanpa memperlakukannya sebagai kekuatan yang secara unik jahat.
Manusia membutuhkan sumber daya. Sepanjang sejarah, mereka mengembangkan cara-cara yang semakin efektif untuk memperolehnya: api, teknologi berburu, pertanian, domestikasi, perdagangan, negara, mesin, bahan bakar fosil, produksi industri, dan pasar global.
Kapitalisme menjadi salah satu sistem paling kuat untuk mengorganisasi produksi, akumulasi, investasi, dan ekstraksi sumber daya. Ia sangat memperkuat kemampuan manusia untuk mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa yang berguna.
Namun justru karena begitu efektif, ia juga memperkuat konsekuensi ekologis dari kelangsungan hidup dan ekspansi manusia.
Ini menghasilkan sebuah paradoks yang khas:
mekanisme yang meningkatkan kapasitas manusia untuk bertahan hidup juga bisa merusak kondisi lingkungan yang menjadi tumpuan kelangsungan hidup itu.
Namun tidak ada yang secara unik manusiawi dari paradoks yang mendasarinya ini.
Hewan pengerat yang menghancurkan pasokan makanannya sendiri dan peradaban manusia yang mengubah atmosfernya berbeda sangat jauh dalam kompleksitas. Tetapi keduanya bisa dipahami sebagai kasus di mana sebuah organisme yang sukses mengubah kondisi yang membuat kesuksesannya mungkin terjadi.
Kecerdasan manusia membuat umpan baliknya menjadi luar biasa canggih. Ia tidak serta-merta membuat logika biologis yang mendasarinya menjadi fundamental berbeda.
Moralisasi Kecerdasan
Inilah sebabnya saya menolak memberikan nilai moral pada kecerdasan itu sendiri.
Menjadi cerdas tidak berarti menjadi baik.
Tidak cerdas tidak berarti tidak berbahaya.
Sebuah bakteri tidak membutuhkan otak untuk mengubah lingkungannya. Seekor belalang tidak membutuhkan filsafat untuk menghancurkan vegetasi. Seekor berang-berang tidak membutuhkan teori etika untuk mengubah aliran sungai.
Begitu pula, manusia tidak perlu memiliki karakter moral yang secara unik destruktif untuk mengubah planet ini.
Mereka hanya memiliki kombinasi karakteristik biologis yang tidak biasa, yang memungkinkan modifikasi lingkungan berskala besar.
Kesalahannya adalah mencampuradukkan kapasitas dengan kebajikan.
Kecerdasan bukanlah kebaikan. Ia adalah kekuatan.
Dan kekuatan bisa digunakan ke arah mana pun, tak terhitung jumlahnya.
Sisi Lain dari Persamaan Moral
Ada juga sesuatu yang menarik tentang keinginan manusia untuk “menyelamatkan alam.”
Sekilas, konservasi tampak berlawanan dengan eksploitasi. Yang satu menghancurkan lingkungan; yang lain melindunginya.
Namun dari sudut pandang lain, keduanya bisa dipahami sebagai strategi yang muncul dari fakta mendasar yang sama: organisme lebih menyukai kondisi di mana mereka bisa terus bertahan hidup.
Manusia mengeksploitasi lingkungan karena sumber daya menopang kehidupan manusia.
Manusia melestarikan lingkungan karena kondisi lingkungan tertentu menopang bentuk-bentuk kehidupan yang dihargai manusia—termasuk diri mereka sendiri.
Ini tidak membuat konservasi menjadi tak bermakna atau munafik. Ini hanya berarti bahwa konservasi tidak selalu merepresentasikan penemuan sebuah perintah objektif yang dikeluarkan oleh alam.
Alam tidak menuntut agar sebuah hutan tertentu tetap tak tersentuh.
Alam tidak menuntut agar Homo sapiens bertahan hidup.
Manusia memutuskan bahwa mereka ingin hal-hal tertentu terus ada, dan membangun sistem moral, politik, dan ekonomi di sekitar preferensi itu.
Perbedaan ini penting.
Mengatakan bahwa manusia ingin melestarikan biosfer adalah satu hal.
Mengatakan bahwa biosfer itu sendiri menuntut untuk dilestarikan dalam bentuknya yang sekarang adalah hal lain.
Ketiadaan Kewajiban Kosmik untuk Bertahan Hidup
Ini mengarah pada mungkin konsekuensi paling tidak nyaman dari pandangan dunia ini.
Tidak ada alasan jelas untuk percaya bahwa Homo sapiens memiliki kewajiban kosmik untuk terus ada selamanya.
Evolusi tidak menjadikan manusia sebagai tujuan akhirnya. Tidak ada tangga evolusi yang telah ditentukan sebelumnya, di mana manusia menempati anak tangga terakhir dan tertinggi. Tidak ada bukti bahwa sejarah biologis bergerak menuju peningkatan kecerdasan, kompleksitas, atau kecanggihan moral.
Homo sapiens muncul.
Kita bertahan hidup.
Kita berkembang.
Kita mengubah lingkungan kita.
Dan, pada akhirnya, kita mungkin akan punah.
Jika itu terjadi, itu tidak berarti manusia gagal memenuhi semacam tujuan kosmik. Kepunahan bukanlah kategori moral. Trilobit tidak gagal secara moral karena punah. Dinosaurus tidak mengkhianati evolusi. Manusia Neanderthal tidak melakukan kesalahan eksistensial.
Mereka berhenti ada.
Tidak ada alasan, dari sudut pandang biologi semata, untuk percaya bahwa manusia harus berbeda.
Ini tidak menuntut kebencian terhadap manusia. Justru sebaliknya. Seseorang bisa menghargai keberadaan manusia secara mendalam sambil menolak menganggap kelangsungannya sebagai keharusan metafisik.
Seseorang bisa mencintai sesuatu tanpa percaya bahwa itu harus bertahan selamanya.
Tidak Ada yang Personal
Bayangkan, kalau begitu, sebuah eksperimen pikiran yang ekstrem.
Anggaplah Homo sapiens mendekati kepunahan, dan tidak ada kemungkinan untuk membalikkannya. Bayangkan menjadi manusia terakhir yang hidup, mengetahui bahwa setelah kematian Anda tidak akan ada penerus manusia lain.
Apakah kepunahan manusia niscaya membutuhkan sebuah ratapan kosmik?
Mungkin tidak.
Seseorang bisa melihat seluruh sejarah spesies ini—perjuangan, penemuan, perang, persahabatan, peradaban, kesalahan, pencapaian—dan cukup mengakui bahwa itu semua pernah terjadi.
Manusia pernah ada di sini.
Ia hidup sesuai dengan kondisi yang dibentuk oleh biologinya, lingkungannya, dan keadaan historisnya.
Ia melakukan apa yang dilakukan organisme: ia berusaha bertahan.
Dan pada akhirnya, mungkin, ia akan berhenti.
Akan ada sesuatu yang hampir terasa pantas dalam menerima itu tanpa membayangkan bahwa alam semesta telah secara personal mengkhianati kita.
Tidak ada yang personal, dan tidak ada yang abadi.
Itu tidak berarti bahwa kehidupan tidak berharga. Itu berarti keberadaan tidak perlu abadi agar bisa dikatakan pernah ada.
Matahari terbenam tidak menjadi tak bermakna karena ia berakhir. Sebuah lagu tidak gagal karena ia memiliki nada terakhir. Sebuah spesies tidak menjadi sebuah kesalahan karena ia akhirnya punah.
Mungkin Homo sapiens hanyalah satu lagi konfigurasi sementara yang dihasilkan oleh sejarah kehidupan yang sangat besar dan tanpa arah.
Kesimpulan
Pertanyaannya, kalau begitu, mungkin bukan apakah manusia telah “menghancurkan alam.”
Manusia tentu telah mengubah lingkungannya, sama seperti setiap organisme yang cukup sukses mengubah lingkungannya dengan caranya masing-masing.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah apakah kita seharusnya menganggap satu konfigurasi ekologis tertentu sebagai keseimbangan sejati alam, apakah kecerdasan itu sendiri layak mendapat status moral, dan apakah kelangsungan hidup sebuah spesies merupakan kebaikan objektif hanya karena spesies itu kebetulan masih hidup.
Saya skeptis terhadap ketiga asumsi ini.
Alam tidak memiliki keseimbangan akhir yang jelas.
Kecerdasan adalah sebuah kapasitas, bukan kebajikan.
Dan kelangsungan hidup bukanlah keharusan kosmik.
Manusia memang tidak biasa, tetapi tidak biasa bukan berarti diistimewakan secara metafisis. Kecerdasan kita telah memungkinkan kita mengubah dunia dalam skala luar biasa, tetapi mungkin itu hanyalah apa yang terjadi ketika satu hewan tertentu memperoleh cara yang luar biasa untuk mengeksploitasi lingkungannya.
Spesies lain mungkin akan melakukan sesuatu yang berbeda.
Seekor hewan pengerat mungkin akan melahap hutan.
Sebuah mikroorganisme mungkin akan mengubah kimia atmosfer.
Seekor predator mungkin akan membentuk ulang seluruh jaring makanan.
Tidak ada jaminan bahwa skenario mana pun dari ini akan menghasilkan keseimbangan yang stabil. Tidak ada jaminan bahwa evolusi akan menghasilkan Homo sapiens lagi. Tidak ada jaminan bahwa kehidupan itu sendiri memiliki tujuan apa pun.
Yang ada hanyalah perubahan.
Organisme muncul, bertahan, mengubah lingkungannya, menghadapi batasan, beradaptasi atau punah, dan memberi ruang bagi sesuatu yang lain.
Dari perspektif satu rentang hidup manusia, ini mungkin terasa sangat besar.
Dari perspektif waktu geologis, ini mungkin hanya sebuah episode lagi.
Dan mungkin itu tidak tragis.
Mungkin itu hanyalah apa artinya menjadi hidup.
Tidak ada yang personal. Tidak ada yang abadi. Dan Homo sapiens tidak perlu menjadi pengecualian.