Melunasi Utang yang Tak Pernah Saya Sadari Saya Miliki

25 March 2026 Farid Ma'ruf
Daftar Isi

Saya membaca Sapiens bertahun-tahun sebelum menemukan Unstoppable Us. Secara naluriah saya menghubungkan keduanya, dengan asumsi bahwa Sapiens menjadi fondasi bagi apa yang kemudian “ditulis ulang” oleh Yuval Noah Harari dalam Unstoppable Us, hanya saja kali ini untuk pembaca yang lebih muda. Namun, seiring saya menjelajahi Unstoppable Us, saya mendapati diri saya terus-menerus membandingkannya dengan struktur naratif dan kerangka argumentasi yang telah dibangun Harari dalam Sapiens.

Namun, kesimpulan saya justru mengejutkan saya sendiri: Unstoppable Us meninggalkan kesan yang jauh berbeda, bahkan mungkin lebih mendalam.

Membaca Unstoppable Us terasa seperti melunasi sebuah utang kepada diri sendiri, utang yang bahkan tidak pernah saya sadari, apalagi akui, atau bahkan tidak saya ketahui keberadaannya.

Sebelum agama, dengan segala keangkuhan dan rasa percaya dirinya yang menjulang, menyodorkan kepada kita jawaban-jawaban siap pakai tentang alam semesta, dahulu kita adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu dan sangat kritis. Kita bertanya “mengapa” dan “bagaimana” tentang segala hal. Kita bereksperimen, berspekulasi, dan mencari jawaban lewat cara apa pun yang bisa kita temukan.

Kemudian, kita diperkenalkan pada “Jawaban-Jawaban” itu: dogma agama, sistem sosial, dan struktur kewarganegaraan yang kaku. Sistem-sistem ini menyediakan bagi kita sebuah realitas yang sudah terbungkus rapi. Mereka menawarkan paket-paket yang rapi dan menenangkan, yang membungkus setiap pertanyaan. Jawaban-jawaban ini tidak selalu kokoh secara empiris atau logis, tetapi ia fungsional. Ia menjaga tatanan sosial tetap utuh. Maka, secara diam-diam dan bertahap, kita mengubur anak yang penuh rasa ingin tahu itu di dalam diri kita.

Tanpa kita sadari, kita melangkah menuju usia dewasa sebagai orang-orang yang percaya bahwa kita sudah tahu segalanya: siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana alam semesta bekerja. Sampai, tak terelakkan, kita membentur sebuah tembok di mana pseudo-sains itu tidak lagi cukup.

Itulah momen yang tepat ketika Unstoppable Us menemukan saya.

Harari tidak sekadar menyederhanakan Sapiens untuk anak-anak. Dia melepas baju zirah akademisnya dan berbicara langsung kepada anak yang terkubur di dalam setiap pembaca dewasa. Dia mengingatkan kita bahwa kisah umat manusia bukanlah buku teks yang telah selesai; ia adalah pertanyaan yang belum tuntas. Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan lama—Dari mana sebenarnya kita berasal? Mengapa kita percaya pada apa yang kita percayai? Kisah-kisah apa yang masih terus kita ceritakan kepada diri sendiri padahal sudah tidak lagi berguna?—terasa mendesak kembali.

Membaca buku ini bukanlah sebuah latihan intelektual. Ini adalah kepulangan emosional. Ini adalah suara versi diri saya yang penuh rasa ingin tahu, skeptis, dan bermata lebar, mengetuk dari dalam, meminta untuk dibiarkan keluar.

Dan mungkin itulah kejeniusan Harari yang tenang: dia memahami bahwa cara paling ampuh untuk menjangkau orang dewasa terkadang adalah dengan berbicara terlebih dahulu kepada anak yang dulu pernah mereka jadi. Karena anak itu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya menunggu izin untuk kembali penasaran.

Maka di sinilah saya, lebih tua, konon lebih bijaksana, namun, berkat sebuah buku yang ditulis untuk pembaca muda, merasa lebih muda dan lebih hidup dibanding sekian lama ini. Utangnya telah lunas. Diri yang penuh rasa ingin tahu itu telah terjaga. Dan pertanyaan-pertanyaan itu, setelah sekian tahun, akhirnya kembali menjadi milik saya.